17 April 2010

Manajemen Sakit Hati

Ketika kalian merasa sakit hati, entah karena persoalan asmara, keluarga, persahabatan, apa yang akan kamu lakukan..?? Putus asa, hilang semangat hidup, atau bunuh diri..?? Naudzubillah... atau mungkin kamu justru berusaha untuk segera melupakannya, hmm.... tapi sudah adakah di antara kalian yang justru me'manage" sakit hati itu menjadi sesuatu yang bermanfaat dan positif..??

Masalah perasaan yang menyangkut hati hanya diketahui oleh kita (yang punya hati) dan Tuhan (yang menciptakan hati), jika seandainya hati itu masih tidak dapat menerima kenyataan, itu karena ego kita yang masih menguasai keinginan kita.......

Yup, rasa sakit hati bukanlah menjadi sebuah alasan bagi kita untuk serba berkecil-kecil, kecil hati atau merasa dunia ini menjadi kecil,. karena sebagai manusia, tentunya kita tidak selamanya dapat memenuhi apa yang kita inginkan, karena yang memegang kuasa hanyalah Tuhan,. jika Tuhan tidak berkehendak untuk mengabulkan keinginan kita, mungkin saja Dia telah mempersiapkan hal lain untuk kita., Ingatlah, sesuatu yang kita jalankan tanpa ada ridha dari Tuhan tidak akan berarti apa-apa., Oleh sebab itu marilah kita semua menjadikan rasa sakit itu menjadi motivasi untuk melakukan hal-hal yang positif, bukan hanya dibawa menyendiri, mengkhayal, apalagi sampai bunuh diri.. huuu..... segera lupakan rasa itu, alihkan perhatianmu kepada hal yang lebih postif, atau bisa saja pengalaman sakit hati itu kita jadikan sebuah inspirasi dan pelajaran bahwa sesungguhnya manusia hanya bisa meminta dan merencanakan, tetapi Tuhanlah yang menentukan......!!! Kalau Anda sendiri telah melakukan apa..???

22 November 2009

Selamat Datang di Dunia Ketidaktahuan

Dunia dimana............................

Ketika para pemuda TIDAK TAHU Ibadah

Ketika para kaya TIDAK TAHU Derma

Ketika para Wanita TIDAK TAHU kodratnya

Ketika para orang tua TIDAK TAHU kematian

Ketika para Pejabat negara TIDAK TAHU malu

Ketika para bayi TIDAK TAHU Bapaknya

Ketika para penegak hukum TIDAK TAHU Keadilan

Ketika para Pelajar TIDAK TAHU Belajar

Ketika para Pemikir TIDAK TAHU Tuhannya

Ketika para Pedagang TIDAK TAHU Adil

Ketika para pengajar TIDAK TAHU mendidik

Ketika ketidaktahuan itu terus dikembangkan

Ketika ketidaktahuan itu berubah menjadi ketidaktahuan lainnya

Ketika ketidaktahuan itu bertambah nyata.....

Ketika itu pula Tuhan Masih tahu untuk berbuat apa....!!!

22 Mei 2009

KEKUASAAN, KARUNIA (UJIAN) DARI TUHAN

“Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di Bumi dan Dia mengangkat (derajat)sebaian kamu di atas sebagian yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sagat cepat memberi hukuman, dan sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.,” (Q.S. Al-An`am:165)

Sudahkah para (calon) pemimpin kita memahami ayat Allah SWT di atas..? ayat ini berisi tentang peringatan, serta ancaman bagi orang-orang yang diangkat oleh-Nya menjadi khalifah (baca: pemimpin). Allah mengingatkan kita bahwa sesungguhnya Dialah yang menjadikan sebagian dari kita menjadi pemimpin, serta Dia pulalah yang meninggikan derajatnya melebihi derajat sebagian yang lain. Ini merupakan sebuah peringatan kepada siapa saja yang telah atau bahkan yang akan menjadi pemimpin kelak, agar kita tidak menjadi takabur dengan menganggap bahwa semua itu terjadi karena usaha dari dirinya semata dan begitu saja melupakan bahwa sesungguhnya kekuasaan itu diberikan oleh Allah SWT.

Kemudian, hal yang perlu diingat pula bahwa, dalam ayat ini terdapat kalimat “untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu.” Kalimat ini dapat dikatakan sebagai “inti” dari ayat ini dan seharusnya menjadi bahan pertimbangan bagi siapa saja yang berniat menjadi seorang pemimpin.

Kalimat ini menunjukkan bahwa karunia Allah berupa kekuasaan yang diberikan kepada kita sesungguhnya hanyalah merupakan sebuah ujian, apakah manusia itu dapat menjalankan amanah yang diberikan kepadanya dengan baik atau bahkan dia menggunakannya hanya atas kemauannya sendiri sehingga menjadikan dia orang yang Dzhalim., Naudzubillah.

Layaknya ujian-ujian yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya, tentunya tujuan dari ujian ini adalah untuk mengetahui tingkat keimanan dan ketaqwaan seorang Hamba kepada Rabbnya. Karena Pemimpin yang beriman dan bertaqwa tentunya akan melaksanakan amanah Tuhannya ini dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya dengan pemimpin yang kadar iman dan taqwanya lemah/kurang, maka ia akan melaksanakan tugasnya sebagai Pemimpin dengan penuh rasa ego dan hanya dikendalikan oleh hawa nafsunya.

Kemudian, dalam ayat ini terdapat kalimat “Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman”. Hal ini jelas menunjukkan ancaman bagi Pemimpin yang tidak menjalankan tugasnya dengan sebagaimana mestinya dan justru hanya menjadi seorang pemimpin yang dzhalim dan dibenci oleh rakyat dan bahkan oleh Tuhannya. Dan sesungguhnya balasan (hukuman) dari-Nya sangat cepat datangnya.

Terakhir, marilah kita menyimak kalimat akhir ayat ini. “Sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Hal ini menunjukkan bagi kita, terutama para pemimpin tersebut bahwa masih terbuka pintu maaf (ampunan) bagi siapa yang menyadari kesalahannya. Karena sesungguhnya Ia maha Pengampun. Wallahu A`lam

Akhirnya, marilah kita sama-sama merenungi bahwa sesunggunhya kemuliaan di mata manusia tidak ada apa-apanya dibandingkan kemuliaan di sisi Allah SWT.