Terdiam dalam bayangan malam
Setitik cahaya dengan kedipan,
Melambai pelan tak karuan,
Menyapaku yang sedang tertunduk bisu,
Mengedipkan mata di pundakku,
Mencoba merangkul dan berbisik lesu,
“Ada apa kawan, Mengapa tatapanmu penuh khayalan??”
“Ah, aku baik-baik saja, kau yang tak pandai menerawang.”
“Lalu, apa arti khayalanmu itu??”
“Ah, ini hanya sekadar pengisi waktu dan rindu, dan aku tahu kau pun pasti sedang rindu.
Kau rindu padanya, yang menatapmu penuh cinta, menantimu dengan setia,
dan berharap dirimu tak hilang di batas senja.”
“Lantas apa yang kau rindukan??”
“Hmm.. Aku merindukan bahagia, yang datang dari bintang, sama sepertimu,
Bercahaya, Suci tak bercela...”
Menggenggam Pena, Menguraikan Tinta, untuk Mengukir Sejarah.... Mencoba berpuisi hingga jiwa tak lagi mengerti
25 Februari 2013
MALAMKU
Malamku sepi
Segan tuk bermimpi
Karena sang hati
Tak bisa kompromi
Terngiang kan janji
Terus saja melingkari
Hingga jiwa tak lagi mengisi
Bila bintang kan berganti senja pagi
Sejak lalu hingga kini
Hanya ini
Malamku nelangsa
Hanyut dalam banyangan duka
Hilang arah tak mampu bertapa
Bersahaja meruamkan luka
Menitik dalam senda tawa
Tak bermakna
Hilang dalam seribu nestapa
Hanya saja
Malamku berbisik
Pada sang pujangga klasik
Memohon senyawa pemantik
Mengarah sukma menyapa bermusik
Menggiring sang mentari mistik
Mengenang waktu berisik
Hanya setitik
Malamku mengiang
Menatap wajah usang
Tenggelam dalam batin kekang
Menunggu pulang
Bercermin ilalang
Hanya hilang
Malamku dirimu
Telah hilang berlalu
Sedang jiwa bersandar batu
Memijak pilu
Bersendakan sendu
Mengiris kalbu
Memimpi sebait lagu
Terpaut dalam bilik haru
Hanya begitu
Malamku panjang... Bersama senja nan usang... Melangkah namun hilang...
Malamku senyummu... Menjauh...
Segan tuk bermimpi
Karena sang hati
Tak bisa kompromi
Terngiang kan janji
Terus saja melingkari
Hingga jiwa tak lagi mengisi
Bila bintang kan berganti senja pagi
Sejak lalu hingga kini
Hanya ini
Malamku nelangsa
Hanyut dalam banyangan duka
Hilang arah tak mampu bertapa
Bersahaja meruamkan luka
Menitik dalam senda tawa
Tak bermakna
Hilang dalam seribu nestapa
Hanya saja
Malamku berbisik
Pada sang pujangga klasik
Memohon senyawa pemantik
Mengarah sukma menyapa bermusik
Menggiring sang mentari mistik
Mengenang waktu berisik
Hanya setitik
Malamku mengiang
Menatap wajah usang
Tenggelam dalam batin kekang
Menunggu pulang
Bercermin ilalang
Hanya hilang
Malamku dirimu
Telah hilang berlalu
Sedang jiwa bersandar batu
Memijak pilu
Bersendakan sendu
Mengiris kalbu
Memimpi sebait lagu
Terpaut dalam bilik haru
Hanya begitu
Malamku panjang... Bersama senja nan usang... Melangkah namun hilang...
Malamku senyummu... Menjauh...
20 Februari 2013
AKU DAN CERMIN
Sebuah cermin terpampang lusuh di sebuah bilik sempit nan buruk rupa
Menatapku selalu dalam keadaan yang sama
Persis.... tak bercela..
Menunggu keretakan yang menunggu usia
Dalam pampangan yang tergerus udara yang tak lama bersua
Diam.... tak bergoyang arahnya..
Cermin itu menunjukkan kegilaan
Sebuah sisi lain dari beratnya beban kelam
Sebuah sisi rahasia dari cerita yang bersinar lalu kembali buram
Menatapku seolah itu hanya sebuah ilusi hitam
Ah.. kau hanya cermin, tak lebih dari sebuah bayangan tak pula rupawan
Lalu, ku coba untuk melawan sosok gila yang selalu muncul di cermin itu
“Hei, kau tak mau menyingkir??” Kataku
“Kau selalu menampakkan wajah gila dan lusuhmu”
“Apa kau tak pernah berdandan bak ratu??”
“Apa kau ingin retak melebihi waktu??”
“Hei, apa kau lupa, aku ini cerminmu..”
“Apa kau lupa, tiap cermin nampak wajah tuannya”
“Apa kau tak sadar, akulah wajah aslimu”
“Berhentilah untuk pura pura senyum di hadapanku, ku tahu kau sudah gila.”
“Apakah kau akan terus percaya pada kepalsuanmu??”
“Kalau begitu, berhentilah berlalu di hadapanku, karena kau sebenarnya gila”
“Ada apa denganmu? Aku tak peduli, tapi aku tak mau menjadi sepertimu”
Cermin itu membalasku, meluapkan amarahnya..
“Baiklah, aku akan mengaku padamu.”
“Segenggam melati telah layu sebelum sempat ku taburi di air keruh..”
“Mengapa??”
“Karena air itu telah memiliki teratai, teratai yang membuatku kelu”
“Sedang melati itu hanya bisa layu”
“Aku hanya bisa begini, hingga telah datang padaku sebuah waktu.”
GILAAAA.... Tiba2 cermin itu menamparku, "hentikan lamunanmu" katanya..
Menatapku selalu dalam keadaan yang sama
Persis.... tak bercela..
Menunggu keretakan yang menunggu usia
Dalam pampangan yang tergerus udara yang tak lama bersua
Diam.... tak bergoyang arahnya..
Cermin itu menunjukkan kegilaan
Sebuah sisi lain dari beratnya beban kelam
Sebuah sisi rahasia dari cerita yang bersinar lalu kembali buram
Menatapku seolah itu hanya sebuah ilusi hitam
Ah.. kau hanya cermin, tak lebih dari sebuah bayangan tak pula rupawan
Lalu, ku coba untuk melawan sosok gila yang selalu muncul di cermin itu
“Hei, kau tak mau menyingkir??” Kataku
“Kau selalu menampakkan wajah gila dan lusuhmu”
“Apa kau tak pernah berdandan bak ratu??”
“Apa kau ingin retak melebihi waktu??”
“Hei, apa kau lupa, aku ini cerminmu..”
“Apa kau lupa, tiap cermin nampak wajah tuannya”
“Apa kau tak sadar, akulah wajah aslimu”
“Berhentilah untuk pura pura senyum di hadapanku, ku tahu kau sudah gila.”
“Apakah kau akan terus percaya pada kepalsuanmu??”
“Kalau begitu, berhentilah berlalu di hadapanku, karena kau sebenarnya gila”
“Ada apa denganmu? Aku tak peduli, tapi aku tak mau menjadi sepertimu”
Cermin itu membalasku, meluapkan amarahnya..
“Baiklah, aku akan mengaku padamu.”
“Segenggam melati telah layu sebelum sempat ku taburi di air keruh..”
“Mengapa??”
“Karena air itu telah memiliki teratai, teratai yang membuatku kelu”
“Sedang melati itu hanya bisa layu”
“Aku hanya bisa begini, hingga telah datang padaku sebuah waktu.”
GILAAAA.... Tiba2 cermin itu menamparku, "hentikan lamunanmu" katanya..
04 April 2012
"WE BOUGHT A ZOO" (Sebuah Review)
Bagi Anda yang ge,ar dengan film-film keluarga khas Hollywood, saya sarankan untuk menonton film yang dirilis Desember 2011 lalu ini. Ya, “We Bought A Zoo” menghadirkan kisah keluarga berserta problema2 di dalamnya, hal yang menjadi ciri khas film keluarga Hollywood.
Film ini menceritakan tentang keluarga Benjamin Mee (Matt Damon) beserta kedua anaknya Dylan Mee (Colin Ford) dan Rosie Mee (Maggie Elizabeth Jones) yang baru 6 bulan ditinggalkan oleh istrinya. Benjamin yang mulai merasakan keputusasaan atas memori tentang istrinya yang terus menggerayanginya berinisiatif untuk pindah mencari rumah dan suasana baru demi kebahagiaan anak-anaknya. Tapi apa yang didapatkan sungguh di luar dugaan. Rumah desa yang ia dapatkan ternyata merupakan bagian dari sebuah kebun binatang yang walaupun telah tutup, namun masih setia dirawat oleh Kelly Foster (Scarlett Johansson) dan kawan-kawan. Keputusan “gila” Benjamin yang akhirnya memilih untuk mengembangkan ulang kebun binatang ini semula sangat ditentang oleh kakaknya yang seorang akuntan, Duncan Mee (Thomas Haden Church). Betapa tidak, biaya perawatan binatang-binatang serta renovasi akan menghabiskan uang Benjamin dengan kemungkinan tidak pasti apakah kebun binatang ini akan bakalan ramai pengunjung nantinya.
Satu cirri khas film keluarga Hollywood yang saya utarakan pada narasi awal adalah tentang adanya konflik antara Benjamin dan anaknya Dylan. Oleh para penggemar film dengan genre ini pastinya akan paham dengan hal ini. Satu hal yang menjadikan film ini menjadi lebih “familiar” tentunya. Namun, satu hal yang menjadi apresiasi tinggi buat film ini adalah tema utamanya yang begitu “tersembunyi” dibalik beragamnya problem yang kita saksikan. Yah, film ini amat saya rekomendasikan bagi para penggemar film-film keluarga.
Dan yang tak kalah bagusnya adalah acting dari para pemain film ini sangat hebat. Kita tidak perlu menanyakan lagi bagaimana acting dari Matt Damon dan Scarlett Johansson, mereka merupakan actor dan aktris papan atas Hollywood. Juga didukung acting dari Colin Ford dan Maggie Elizabeth Jones yang sempurna menurut saya. Belum lagi pesona seorang Elle Fanning (yang menjadi aktris remaja favorit saya selain Chloe Moretz tentunya) turut memberikan warna bagi film ini. Salah satu adegan yang paling saya sukai adalah ketika Dylan dan ayahnya bertengkar di salah satu koridor rumahnya. Pertengkaran itu benar-benar terlihat “hebat” jika kita melihat bahwa yang bertengkar adalah seorang Ayah dan anaknya yang berusia 14 tahun.
Akhirnya, film yang terinspirasi dari kebun binatang Dartmoor dan keluarga Benjamin sebagai pemiliknya ini mengajarkan kepada kita bahwa kadang kala dalam mengambil sebuah keputusan hanya dibutuhkan keberanian untuk memulainya. Dan keputusan yang tepat akan membawa kepada kebahagiaan pada akhirnya meskipun banyak tantangan yang mesti dilalui.
IMDb memberikan rating 7.4/10 bagi film ini. Tapi bagi saya film ini layak mendapat nilai 8.8/10
:D
Film ini menceritakan tentang keluarga Benjamin Mee (Matt Damon) beserta kedua anaknya Dylan Mee (Colin Ford) dan Rosie Mee (Maggie Elizabeth Jones) yang baru 6 bulan ditinggalkan oleh istrinya. Benjamin yang mulai merasakan keputusasaan atas memori tentang istrinya yang terus menggerayanginya berinisiatif untuk pindah mencari rumah dan suasana baru demi kebahagiaan anak-anaknya. Tapi apa yang didapatkan sungguh di luar dugaan. Rumah desa yang ia dapatkan ternyata merupakan bagian dari sebuah kebun binatang yang walaupun telah tutup, namun masih setia dirawat oleh Kelly Foster (Scarlett Johansson) dan kawan-kawan. Keputusan “gila” Benjamin yang akhirnya memilih untuk mengembangkan ulang kebun binatang ini semula sangat ditentang oleh kakaknya yang seorang akuntan, Duncan Mee (Thomas Haden Church). Betapa tidak, biaya perawatan binatang-binatang serta renovasi akan menghabiskan uang Benjamin dengan kemungkinan tidak pasti apakah kebun binatang ini akan bakalan ramai pengunjung nantinya.
Satu cirri khas film keluarga Hollywood yang saya utarakan pada narasi awal adalah tentang adanya konflik antara Benjamin dan anaknya Dylan. Oleh para penggemar film dengan genre ini pastinya akan paham dengan hal ini. Satu hal yang menjadikan film ini menjadi lebih “familiar” tentunya. Namun, satu hal yang menjadi apresiasi tinggi buat film ini adalah tema utamanya yang begitu “tersembunyi” dibalik beragamnya problem yang kita saksikan. Yah, film ini amat saya rekomendasikan bagi para penggemar film-film keluarga.
Dan yang tak kalah bagusnya adalah acting dari para pemain film ini sangat hebat. Kita tidak perlu menanyakan lagi bagaimana acting dari Matt Damon dan Scarlett Johansson, mereka merupakan actor dan aktris papan atas Hollywood. Juga didukung acting dari Colin Ford dan Maggie Elizabeth Jones yang sempurna menurut saya. Belum lagi pesona seorang Elle Fanning (yang menjadi aktris remaja favorit saya selain Chloe Moretz tentunya) turut memberikan warna bagi film ini. Salah satu adegan yang paling saya sukai adalah ketika Dylan dan ayahnya bertengkar di salah satu koridor rumahnya. Pertengkaran itu benar-benar terlihat “hebat” jika kita melihat bahwa yang bertengkar adalah seorang Ayah dan anaknya yang berusia 14 tahun.
Akhirnya, film yang terinspirasi dari kebun binatang Dartmoor dan keluarga Benjamin sebagai pemiliknya ini mengajarkan kepada kita bahwa kadang kala dalam mengambil sebuah keputusan hanya dibutuhkan keberanian untuk memulainya. Dan keputusan yang tepat akan membawa kepada kebahagiaan pada akhirnya meskipun banyak tantangan yang mesti dilalui.
IMDb memberikan rating 7.4/10 bagi film ini. Tapi bagi saya film ini layak mendapat nilai 8.8/10
:D
Langganan:
Postingan (Atom)